Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Gunawan Sutanto Website Gunawan Sutanto Website

Nulis Kalau Sempat

Gunawan Sutanto Website Gunawan Sutanto Website

Nulis Kalau Sempat

Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Mural Persebaya
Esai

Slamet Dadi

By Gunawan
June 18, 2026 3 Min Read
0

Suatu petang, ponsel saya berdering. Ternyata panggilan dari seorang kawan. Andai bukan dia yang menelepon, pasti tidak keburu saya angkat. Sebab saya ingat betul ketika itu saya sedang jalan kaki, dari turun Wira Wiri di terminal menuju rumah. Jaraknya sekitar 700-an meter.

Kawan itu adalah seorang ASN di Pemkot Surabaya. Dulu sama-sama menjadi jurnalis. Dia bekerja di kantor berita berstatus BUMN, saya di perusahaan media swasta.

Dia lantas memutuskan pindah satker. Pindah ke Pemkot Surabaya. Ia menapaki karier dari bawah ketika menjadi ASN Pemkot Surabaya. Dari staf biasa hingga kini mengemban jabatan struktural di Disbudporapar.

“Aku ditugasi Pak Wali (Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi) menyiapkan kado untuk Persebaya,” katanya.

Ternyata Pak Wali ingin membuat mural di Surabaya Barat. Sudah ada bidang yang bisa dijadikan kanvas. Tinggal bagaimana mengisinya dengan gambar yang menarik.

“Bantu teman-teman Persebaya buat ngonsep, ya,” lanjutnya.

Tanpa banyak berpikir, saya mengiyakan. Sama seperti dirinya yang hampir selalu mengiyakan ketika saya meminta bantuan.

Saya juga menghargai semangat kolaborasinya. Mungkin karena ia pernah menjadi jurnalis, ia paham bahwa sebuah karya tidak cukup hanya indah dipandang. Ia harus punya cerita. Harus punya makna.

Karena itu saya yakin, yang ia cari bukan sekadar mural yang bagus secara visual, melainkan mural yang mampu bercerita. Khas seorang jurnalis yang percaya bahwa kekuatan terbesar sering kali terletak pada storytelling.

Satu-satunya kegelisahannya saat itu adalah waktu.

Deadline terlalu dekat dengan ulang tahun Persebaya. Ia khawatir proyek ini tidak selesai tepat waktu dan gagal menjadi kado yang diharapkan.

Keesokan harinya saya menghubungi beberapa teman di Persebaya. Saya juga menghubungi Kepala Tim Desain DBL Indonesia, Rio Ardinata—yang lebih akrab kami panggil Slamet.

Sejujurnya saya agak tidak enak saat meminta bantuannya.

Hari-hari itu Slamet dan timnya sedang berada dalam masa yang sangat sibuk. Kami akan menggelar event rutin tahunan: DBL Camp. Program pelatihan basket pelajar terbesar di Indonesia itu sudah di depan mata. Saya tahu persis betapa padatnya pekerjaan mereka. Banyak pekerjaan-pekerjaan terkait desain yang tidak bisa di-pending sejenak untuk urusan lainnya.

Namun Slamet tidak banyak drama.

Ia menyanggupi.

Grup koordinasi kemudian dibuat pada 15 April 2026. Isinya beragam. Ada teman dari Disbudporapar itu, dari Dinas Cipta Karya, Warna-Warni (perusahaan media luar ruang), hingga komunitas mural.

Belakangan saya sadar, karya besar memang hampir selalu lahir dari banyak tangan yang bekerja dalam diam.

Diskusi demi diskusi berlangsung di grup itu. Saya sendiri justru sering tertinggal. Sebagian karena sempat berada di luar negeri, lalu lanjut ke Jakarta untuk bergabung dalam berbagai kesibukan DBL Camp yang luar biasa menyita perhatian.

Tapi Slamet dan tim tidak mengeluh.

Mereka tetap berjalan.

Tetap berdiskusi.

Tetap mengerjakan.

Sampai akhirnya semua orang bisa melihat hasilnya.

Mural itu berdiri. Selesai tepat waktu. Menjadi salah satu kado ulang tahun ke-99 Persebaya pada 18 Juni 2026.

Banyak pujian datang setelahnya. Orang-orang melihat hasil akhirnya.

Namun seperti banyak karya lainnya, tidak semua orang melihat proses panjangnya.

Rapat-rapat yang melelahkan. Tenggat yang menekan. Hingga orang-orang yang bekerja tanpa pernah meminta namanya disebutkan.

Semoga cerita kecil ini bisa tersimpan jadi memori baik. Sebab manusia sering kali memiliki ingatan yang pendek terhadap kebaikan seseorang.

Padahal banyak hal baik yang kita nikmati hari ini lahir dari mereka yang bekerja diam-diam, lalu membiarkan orang lain menerima tepuk tangan.

Sehari sebelum ulang tahun Persebaya, kami bertemu dengan Pak Wali. Di sana hadir juga kawan saya dari Disbudporapar itu.

Saya menghampirinya dan membisikkan dua kata: “Slamet dadi.” (*)

Berikut konsep mural karya Slamet and team:

Tags:

BonekCatatan GunawanDisbudporapar SurabayaEri CahyadiKolaborasiMural PersebayaPersebayaPersebaya 99 TahunRio ArdinataSlamet DadiStorytellingUlang Tahun Persebaya
Author

Gunawan

Follow Me
Other Articles
Gunawan Sutanto, admin Catata Harian Disway menuliskan pengalamannya selama menangani Catatan Dahlan Iskan
Previous

Ketika Admin Magang Malu dengan Sang Tuan

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Slamet Dadi
  • Ketika Admin Magang Malu dengan Sang Tuan
  • Cara Gampang Buka Blokir Situs dengan Google
  • Download Video Instagram Tanpa Aplikasi
  • Tahu Kopi Tiwus yang Ada di Filosofi Kopi itu kan? Begini Rasanya…

Recent Comments

  • retno on Membranding Single Origin Kopi Jatim
  • Kusuma on Wisata Seru ke Nusakambangan tanpa Lewat Pos Pengamanan (2 – Habis)
  • chepy on Membranding Single Origin Kopi Jatim
  • vincent rio on Membranding Single Origin Kopi Jatim
  • Ke Filosofi Kopi, Kedai yang Dibangun Berdasar Karya Fiksi | Gunawan Sutanto Personal Site on Rudy’s Kaffee, Berawal dari Seduhan Kopi Habibie
Copyright 2026 — Gunawan Sutanto Website. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme