Gunawan Sutanto, admin Catata Harian Disway menuliskan pengalamannya selama menangani Catatan Dahlan Iskan

Tak terasa sudah empat tahun saya menjalani profesi sebagai admin Catatan Dahlan Iskan. Tulisan yang diterbitkan setiap hari oleh Dahlan Iskan. Nonstop.

Tanpa kenal libur. Tanpa mengenal tanggal merah apapun. Baik hari besar nasional, maupun hari besar keagamaan.

Mau lebaran.

Mau natal.

Mau tahun baru.

Bahkan ketika Abah -begitu saya memanggilnya- dalam kondisi sakit pun Catatan Dahlan Iskan itu tetap ada.

Sebagai admin tentu saya malu kalau ingin mengajukan libur. Apalagi tugas saya sekadar mengecek tulisan dan mengunggahnya di blog disway.id.

Di awal-awal mendapatkan tugas sebagai admin, saya banyak menjalankan tugas sendirian. Baru sejak berdiri Harian Disway (4 Juli 2020), saya mendapatkan bantuan sebagai admin. Yang membantu saya Direktur sekaligus pemred Harian Disway, Mas Tomy (Tomy C. Gutomo).

Mas Tomy lebih banyak membantu mengecek tulisan. Sebab, ia berkepentingan menayangkan tulisan itu ke dalam medium cetak (kini epaper). Namun dalam beberapa kesempatan saya juga dibantu mengunggah tulisan itu. Terutama ketika saya ketiduran. Atau ketika sedang sakit yang tak tertahankan.

Sejak menjadi “admin magang” Catatan Dahlan Iskan, saya sebenarnya malu.

Sangat malu.

Malu karena saya yang lebih muda dari Abah, kok tidak bisa konsisten menulis setiap hari.

Apalagi sebelum ada Harian Disway. Saya nyaris tak pernah nulis lagi. Kerjaan sehari-hari hanya menjadi editor ala-ala. Mengedit tulisan para content writer di media yang saya tangani di DBL Indonesia.

Saya malu karena Abah ngeblog baru sejak 8 Februari 2018 bisa konsisten menulis. Nonstop.

Sedangkan saya, sudah punya blog sejak 2007. Dari register domainnya bernama gunawansutanto.net. Lalu beralih menjadi gunawan.website. Hingga kini menjadi gunawan.id.

Nyatanya saya hanya mampu gonta-ganti domain. Gonta-ganti themes. Tapi isinya kosong.

Saya sebenarnya sempat berkomitmen mengisi blog ini kembali. Setidaknya sehari satu tulisan. Seperti yang dilakukan Abah. Tapi komitmen itu sekadar komitmen. Susah menjalankannya. Ada saja halangannya. Apalagi ketika kesibukan makin bertambah.

Namun saya sadar, kesibukan itu sebenarnya tak bisa jadi alasan.

Ini juga yang pernah saya perdebatkan dengan seorang teman di kantor.

Ketika itu saya meminta si teman ini untuk konsisten menulis di media yang ia dirikannya. Setidaknya seminggu sekali.

Si teman ini tak sanggup. Dengan alasan ini dan itu.

Ketika saya beri contoh konsistensi seorang Dahlan Iskan, ia masih punya jawaban. Intinya: Abah bisa konsisten dengan catatannya karena sekarang sudah “pensiunan”. Pensiun sebagai Menteri. Dan terakhir “pensiun” dari perusahaan media, Jawa Pos.

Saya tak sependapat dengan frasa pensiun untuk Abah. Pertama, perusahaan yang masih dijalankan Abah buanyak. Bahkan ia sampai lupa memiliki saham di mana saja? Sampai detik ini, ada tim khusus yang menginventarisir aset-aset itu.

Perusahaan yang butuh tenaga dan pemikiran Abah langsung juga banyak. Salah satunya yang kerap disampaikan ke publik adalah ia belakangan harus berjibaku dengan peliknya masalah di perusahaan pembangkit listrik. Di Kalimantan Timur.

Lalu, saya sempat bilang ke teman itu. Mari kita coba seminggu menjadi pensiunan, apakah bisa kita berkomitmen menulis sehari satu tulisan seperti yang dilakukan Abah? Dan, saya tak mendapatkan jawabannya. Intinya susah memang menjalankan komitmen seperti itu.

Dan, malam ini, Minggu 19 Februari 2023, saya mencoba menjalani komitmen itu. Saya tak ingin mengekang harus sehari satu tulisan. Setidaknya di tahap awal ini seminggu satu tulisan. Semoga bisa. (Bersambung: Tugas-Tugas Admin Magang)

By Gunawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *